Mitos dan Fakta Kawah Candradimuka
Kawah Candradimuka terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Kawah ini sering dikaitkan dengan cerita pewayangan tentang Raden Gatotkaca, seorang tokoh yang dikenal sakti mandraguna.
Julukannya, “otot kawat balung wesi” (otot kawat, tulang besi), menegaskan kesaktiannya.
Keberadaan Kawah Candradimuka erat kaitannya dengan kesaktian Raden Gatotkaca. Menurut cerita, para dewa menempa Gatotkaca di sini hingga ia tumbuh menjadi ksatria yang gagah perkasa.
Oleh karena itu, Kawah Candradimuka menjadi salah satu destinasi wisata unik di Dataran Tinggi Dieng. Anda bisa mengamati kawah aktif dari dekat tanpa perlu khawatir karena kawah ini aman dan tidak mengandung gas beracun.
Cerita yang Melegenda
Kawah Candradimuka memiliki kisah asal-usul yang melegenda dan sering diceritakan dalam pagelaran wayang. Mari kita telusuri bersama kisah menarik di baliknya!
Asal-usul Kawah Candradimuka bermula dari zaman para dewa. Pada masa itu, Sang Hyang Wenang adalah penguasa dewa di kahyangan Tengguru. Ia memiliki putra bernama Sang Hyang Tunggal, yang tinggal di kahyangan Keling.
Suatu hari, Sang Hyang Tunggal menghadap Sang Hyang Wenang bersama tiga putranya dari bangsa lelembut, yaitu Sang Hyang Rudra, Sang Hyang Dharmastuti, dan Sang Hyang Dewan Jali. Ia menyampaikan kegelisahannya setelah membaca kitab pusaka Pancadaria, peninggalan kakeknya, Sang Hyang Nurcahyo.
Berdasarkan silsilah, Sang Hyang Nurcahyo memiliki keturunan bernama Sang Hyang Nurhaya, yang kemudian melahirkan Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang adalah ayah Sang Hyang Tunggal. Jadi, Sang Hyang Tunggal adalah cicit dari Sang Hyang Nurcahyo.
Keinginan Sang Hyang Tunggal
Kitab Pancadaria, karya Sang Hyang Nurcahyo, menceritakan perjalanan hidupnya. Dahulu, Sang Hyang Nurcahyo adalah manusia biasa. Namun, ketekunan dalam menjalani tirakat dan tapa brata membuatnya mampu menembus alam dewa dan menjadi dewa.
Terinspirasi oleh kisah Sang Hyang Nurcahyo, Sang Hyang Tunggal ingin memiliki keturunan yang serupa. Ia berharap keturunannya berbadan manusia, tetapi mampu menembus alam dewa. Ia juga berharap kelak keturunannya dapat memimpin Triloka, yang terdiri dari alam Atas (Moyopodo), Tengah (Madyopodo), dan Bawah (Narcopodo).
Untuk mewujudkan keinginannya, Sang Hyang Tunggal memohon izin kepada Sang Hyang Wenang untuk meninggalkan Kahyangan Keling dan melakukan tapa brata. Ia ingin memohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha Pencipta. Sang Hyang Wenang mengizinkan dan merestui keinginannya. Ia kemudian menitipkan kahyangan Keling kepada Sang Hyang Rudra. Setelah itu, Sang Hyang Tunggal berangkat mencari tempat pertapaan.
Adu Kesaktian
Di saat yang sama, seorang raja sakti bernama Prabu Condrodimuka juga ingin melakukan tapa brata agar bisa menyamai derajat Sang Hyang Wenang.
Di tengah perjalanan mencari tempat pertapaan, Prabu Condrodimuka bertemu dengan Sang Hyang Tunggal. Karena keduanya memiliki tujuan yang sama, mereka bertanding adu kesaktian untuk memperebutkan tempat bertapa.
Karena sama-sama sakti, keduanya terpental saat beradu kesaktian. Prabu Condrodimuka terpental jauh hingga jatuh di puncak Jamur Dipo, lalu menjadikannya sebagai tempat pertapaan. Begitu juga dengan Sang Hyang Tunggal, ia terpental jauh hingga jatuh ke pantai dan memilih sebuah batu karang untuk tempat tapa bratanya.
Mimpi Dewi Wiranti
Secara kebetulan, batu karang itu berada di pantai yang menjadi wilayah kekuasaan Raja Kakatama, seorang raja jin yang sangat sakti. Raja Kakatama memiliki seorang putri bernama Dewi Wiranti (atau Dewi Rekatawati).
Suatu hari, Dewi Wiranti menghadap ayahnya dan menceritakan mimpinya. Ia bermimpi menikah dengan seorang manusia sakti yang mampu menembus alam jin, bernama Sang Hyang Tunggal.
Mendengar cerita putrinya, Raja Kakatama memahami keinginan putrinya. Dengan kesaktiannya, ia segera mencari keberadaan Sang Hyang Tunggal.
Singkat cerita, Raja Kakatama berhasil menemukan Sang Hyang Tunggal yang sedang bertapa. Berkat kesaktiannya, Raja Kakatama dengan cepat memindahkan Sang Hyang Tunggal ke kerajaannya, Kerajaan Talang Samudra.
Ketika sadar dari pertapaannya, Sang Hyang Tunggal mendapati dirinya berada di Kerajaan Talang Samudra. Di hadapannya, ada Raja Kakatama dan putrinya. Raja Kakatama menjelaskan mimpi putrinya, dan Sang Hyang Tunggal pun memahami situasinya. Ia menyadari bahwa inilah hasil pertapaannya selama ini, yaitu menikahi Dewi Wiranti. Ia berharap kelak dari pernikahannya akan lahir keturunan yang mampu memimpin alam Triloka.
Lahirnya Keturunan yang Berwujud Telur
Setelah itu, Sang Hyang Tunggal menikahi Dewi Wiranti dan tinggal di Kerajaan Talang Samudra. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang putra. Namun, anehnya putra mereka lahir dalam wujud telur.
Tidak lama kemudian, Sang Hyang Rudra datang. Ia diutus oleh Sang Hyang Wenang untuk memberitahu bahwa kahyangan Tengguru sedang dilanda hawa panas yang bersumber dari puncak Gunung Jamur Dipo. Rupanya, kunci untuk menyelesaikan gejolak ini adalah putra Sang Hyang Tunggal yang baru lahir.
Merasa kecewa dengan wujud putranya yang berupa telur, Sang Hyang Tunggal melemparkan telur itu ke arah puncak Gunung Jamur Dipo. Namun, karena tidak tega, ia terbang mengikuti telur itu. Telur itu melesat dengan sangat cepat hingga menghantam Prabu Condrodimuka yang sedang bertapa dan memangkas puncak Gunung Jamur Dipo, sehingga terbentuklah sebuah kawah.
Telur itu tidak berhenti dan terus melesat ke kahyangan Tengguru. Di sana, Sang Hyang Wenang menangkapnya. Sang Hyang Tunggal menepuk dada dan menjelaskan bahwa ia telah menikahi Dewi Wiranti dan dikaruniai keturunan berwujud telur. Lalu, Sang Hyang Wenang menyiram telur itu dengan air keabadian Tirta-Merta Kamandanu.
Seketika, telur itu pecah dan berubah menjadi tiga pria dewasa. Dari cangkang telur, lahirlah putra pertama yang diberi nama Sang Hyang Tejomoyo. Kemudian, putih telur menjadi putra kedua bernama Sang Hyang Ismoyo, dan dari kuning telur menjadi putra ketiga, Sang Hyang Manik Moyo.
Sang Hyang Tunggal Bersyukur
Sang Hyang Wenang menjelaskan bahwa inilah hasil pertapaan Sang Hyang Tunggal. Kelak, salah satu dari keturunannya akan memimpin kahyangan Tengguru dan alam Triloka. Mendengar penjelasan itu, Sang Hyang Tunggal bersyukur atas anugerah keturunan tersebut.
Setelah itu, Sang Hyang Tunggal meminta izin kepada Sang Hyang Wenang untuk tinggal sementara di kahyangan Tengguru dan merawat ketiga putranya. Sang Hyang Wenang pun mengizinkan.
