Kisah Si Anak Berambut Gimbal Keturunan Sang Kyai Kolodete

Kisah Si Anak Berambut Gimbal Keturunan Sang Pungawa Kyai Kolodete

Bernama Sumprah asli penduduk desa Dieng yang mempunyai keunikan berambut gimbal, seperti halnya anak-anak  pada masa usia sekitar 41 hari sampai 12 tahun di Dataran Tinggi Dieng.

Sumprah kecil mempunyai pengalaman aneh, pada suatu saat Sumprah mau didaftarkan sekolah TK oleh orang tuanya, salah satu syarat pendaftarannya yaitu menyertakan pas foto ukuran 3×4.

Pada jaman dulu belum ada hp androit dan sejenisnya, yang ada yaitu tukang foto keliling, sudah menjadi kebiasaan  anak-anak kalau mendengar nama tukang foto pada ketakutan, termasuk penulis hehehe.

Sumprah kecil mendengar bahwa dia mau difoto, dia tidak suka, takut, dan marah. Pada saat akan difoto rambutnya Sumprah yang gimbal dan panjang tiba-tiba berdiri keatas.

Kisah Lucu Sumprah Si Anak Bajang

Dengan bertumbuhnya usia, memiliki rambut yang tidak sesuai dengan keinginannya tentu akan merasa terganggu dengan penampilannya.

Sumprah ingin sekali memiliki rambut normal pada umumnya yaitu dengan dipotong rambut gimbalnya, seperti layaknya teman-temannya.

Maka diadakan acara ruwatan dan selametan dengan mengundang tetangga sekitar, dengan syarat bahwa si anak sudah mau kalau rambunya akan dipotong dengan memenuhi permintaan anak.

Setelah beberapa tahun dari acara ruwatan rambut Sumprah tumbuh, namun masih tetap saja rambunya gembel, orang tua dan keluarganya pada bingung.

Ternyata apa yang diminta si anak berbeda dengan apa yang diberikan oleh orang tuannya, si anak minta tempe yang diberikan orang tua yaitu HP, karena pada saat acara ruwatan, si anak bicaranya masih cadel.

Itu salah satu dari keunikan si anak berambut gimbal, kadang satu anak dengan anak yang lain mempunyai keunikan sendiri.

Tradisi Ruwatan Si Anak Bajang yang Masih Lestari

Tradisi pemotongan rambut gembel atau ruwatan sampai sekarang masih terjaga kelestariannya, acara tersebut bisa dilakssanakan keluarga dengan mengundang tetangga sekitar.

Dengan bertambahnya wisatawan yang berkunjung ke Dieng maka dibentuklah sebuah acara DCF Dieng Cultur Festifal.

Tujuan dari Dieng Cultur Festifal selain menjaga tradisi masyarakat yang sudah melekat, yaitu menarik kunjungan wisatawan.

Dieng Cultur Festifal Sebagai Magnet Wisatawan

Pertama kali diadakan DCF Dieng Cultur Festifal yaitu tahun 2010, banyak wisatawan yang rela berduyun-duyun mendatangi acara tersebut.

Dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2019 acara DCF berjalan dengan lancar dan selalu padat dikunjugi wisatawan, sampai lahan parkir yang disediakan penuh, homestay penuh bahkan di penginapan di Dieng sampai kekurangan homestay.

Banyak pula yang mendirikan tenda-tenda di bukit dan lahan pertanian warga, demi untuk mengikuti acara DCF tersebut.

Beberapa acara yang disajikan dalam Dieng Cultur Festifal tahun 2019 yaitu

  1. Ruwat rambut gembal sebagai acara utama pagelaran budaya
  2. Music Jazz Atas Awan, pada waktu acara terselengara suhu udara minu 20
  3. Lampion
  4. Budaya dan Cultur, Pagelaran seni dan budaya Dataran Tinggi Dieng
  5. Mayahan, pengajian terbuka
  6. Aksi Dieng Bersih, melakukan kegiatan bersih-bersih dan membiasakan tidak membuang sampah sembarangan

Namun sejak tahun 2020 sampai 2021 acara DCF tidak serame dulu, ini dikarenakan dunia sedang dalam masa Pandemi Covid 19. Ditahun pandemic acara DCF tetap dilaksanakan namun tidak melibatkan kerumunan. Semoga pandemic segera berlalu dan acara DCF bisa normal kembali.

Selamat berwisata ke Dataran Tinggi Dieng.

Scroll to Top